0858-8293-0492
admin@adianhusaini.id
Depok, Jawa Barat, Indonesia
blog-img
18/02/2022

AQIDAH AHLUSSUNNAH DALAM PEMBUKAAN UUD 1945

Admin EK | Artikel Terbaru

Oleh: Bana Fatahillah Lc

(Guru Pesantren At-Taqwa Depok)

Pada 22 Juni 1945, sembilan tokoh bangsa dipimpin Ir. Soekarno, menghasilkan satu rumusan indah yang sekarang dikenal sebagai Pembukaan UUD 1945. Diantara rumusan indah yang memiliki makna besar, adalah: Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur

“Atas Berkat Rahmat Allah SWT”. Kalimat ini sejatinya adalah manifestasi dari konsep qadha dan qadar dalam Islam.  Seorang muslim harus meyakini bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak-Nya dan tercipta oleh-Nya, baik yang sedang terjadi atau pun yang akan terjadi. 

Qadha adalah sebuah ketetapan yang termaktub di Lauhil Mahfudz sejak masa azali. Ia berkaitan erat dengan sifat ilmu dan iradah Allah SWT yang qadim. Sedangkan qadar  adalah aktualisasi dari ketetapan yang telah dimaktubkan. Jadi, tatkala pada suatu hari kita diberikan uang sebesar satu milyar rupiah, maka ketahuilah hal itu adalah aktualisasi dari ketetapan yang Allah tuliskan. 

            Baik atau pun buruk, seorang muslim harus yakin bahwa apa yang terjadi adalah ketetapan Allah dan perbuatan-Nya. Tatkala seorang pemain bola muslim mencetak bola ke gawang lawan, maka ia harus yakin, bahwa hal tersebut sudah ‘ditetapkan’ oleh Allah SWT. Karenanya, seseorang tidak perlu terlalu angkuh dengan gol tersebut atau pencapaian apa pun.

            Inilah makna yang tampaknya ingin disampaikan oleh para tokoh bangsa kita dibalik kalimat “atas berkat rahmat Allah” itu. Saat kemerdekaan itu sudah diteriakkan, mereka meyakini bahwa Allah-lah yang dengan sifat Ilmu dan Iradah qadim-Nya menetapkan Indonesia akan merdeka di hari sekian dan bulan sekian.

Karenanya, dengan lantang mereka merumuskan sebuah kalimat “atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”. Sebab, sebagaimana disebutkan,  kemerdekaan ini bukanlah buah dari tangan mereka,  namun merupakan anugerah Allah SWT,  sebagai pemilik seluruh kekuatan. Kemerdekaan Indonesia adalah rahmat dari Allah.

Dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur”. Namun jika berhenti sampai di sini, akan muncul asumsi “Kalau seluruh apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi sudah ditetapkan oleh Allah, apa gunanya usaha kita? Dan kalau begitu juga,  untuk apa kita berdoa? Bukankah semuanya sudah ditetapkan oleh Allah? Mau berdoa atau tidak, jika Allah tetap menakdirkanku miskin, diriku bisa apa?

            Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang sering terbersit dalam pembahasan qadha dan qadar. Bahkan kelompok Ahlussunnah kadang dituduh sebagai Jabariyyah yang meyakini bahwa manusia tidak mempunyai pilihan dalam menyikapi takdir. Ia ibarat kapas yang terbang kemana angin berhembus bersamanya. Padahal hakikatnya tidak seperti itu. Ahlusunnah mempunyai konsep bernama ‘kasab’ untuk merespon berbagai dugaan ini.

            Syekh Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya Kubra Yaqiniyyat membagi ciptaan Tuhan menjadi dua bagian. Pertama, sesuatu yang memang tidak mempunyai upaya (kasb) dalam ketetapannya. Ia adalah hal-hal yang berjalan di alam ini dengan keadaan mantap dan paten. Contohnya seperti gerakan perputaran bumi mengelilingi matahari, tumbuhnya pohon dan bunga dan lain sebagainya. Mereka semua tidak punya wewenang atau pilihan untuk merubah nasibnya.

Kita bisa membayangkan kalau suatu hari bumi tak mau lagi berputar sebagaimana mestinya. Ia ingin berputar beda dari biasanya. Sudah pasti itu akan menyebabkan kekacauan. Dan akal kita pun menyetujui asumsi ini.

Kedua, ciptaan yang memiliki upaya (kasb) dalam perbuatannya, atau lebih tepatnya perbuatan ‘yang dikehendakinya’. Contohnya adalah makhluk hidup seperti manusia ataupun hewan. Jika dihadapkan pada kalian dua makanan lezat, pizza dan oncom, misalnya, kita pasti – dengan kehendak yang kita miliki -- bisa berupaya memilih satu di antara dua makanan tersebut. Maksudnya, kemungkinan kita mengambil oncom ataupun pizza itu sama-sama kuat. Dan kita , sekali lagi, memiliki upaya dalam menentukan pekerjaan seperti ini. 

            Dari sini kita bisa menjawab dugaan-dugaan di atas. Usaha kitalah yang menentukan,  kita ini mau merdeka atau tidak. Kalau ada yang menimpal: “Ngapain berjuang mati-matian ujung-ujungnya juga bakal terjajah terus?” maka jawab saja: “Kenapa Anda tahu sesuatu yang belum terjadi. Memangnya Anda sudah ngintip Lauhil Mahfudz,  bahwa kita akan terjajah selamanya?”

            Jadi, meski apa pun yang terjadi di dunia ini adalah ketetapan Allah, namun manusia mempunyai upaya dalam menentukan pilihannya. Ia tidak bisa beralasan: saya sudah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi kafir lantas saya tidak beriman. Sebab antara menjadi mukmin ataupun kafir itu sama-sama mungkin bagi dirinya, dan ia bisa mengupayakan dirinya untuk beriman.

Dan inilah mengapa setelah yakin bahwa kemerdekaan adalah ketetapan dari Allah, tokoh kita tidak berhenti sampai ucapan syukur atas takdir yang Allah berikan. Mereka yakin, ini adalah ikhtiyar mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sebab menurut mereka, manusia selalu mempunyai upaya dalam menentukan pilihannya; apakah ia mau bodoh atau pintar, apakah ia mau terus terjajah atau ingin merdeka dan sebagainya. Dan makna inilah yang diwakilkan lewat frasa “dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur..”

            Terakhir kita bisa menyimpulkan, kalimat ini tidak mungkin tercetus dari orang sembarangan. Ada empat tokoh Islam yang hebat dalam Panitia Sembilan, yaitu : KH Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, Abdulkahar Muzakkir, dan Abikusno Cokrosuyoso.

Para tokoh perumus Pembukaan UUD 1945 itu tentu sudah memikirkannya secara matang. Mereka faham betul bagaimana konsep qadha dan qadar dalam Islam.  Bahkan, secara keseluruhan, Pembukaan UUD 1945 mencerminkan pandangan hidup Islam (Islamic worldview), dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

            Semoga pemikiran jernih para pendiri bangsa itu dapat kita pahami dan kita aktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Aamiin. (Depok, 19 Februari 2022).  

 

Bagikan Ke:

Populer