0858-8293-0492
admin@adianhusaini.id
Depok, Jawa Barat, Indonesia
blog-img
03/10/2025

KALAU MAU PENDIDIKAN KITA MAJU, TELADANI LIMA TOKOH INI

Admin EK | Artikel Terbaru

Artikel Terbaru ke-2.277

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

            Masalah pendidikan di Indonesia – termasuk masalah guru – akan terus menjadi masalah yang berkepanjangan jika tidak diselesaikan dari akar masalahnya. Yakni, makna dan tujuan pendidikan itu sendiri.  Jika pendidikan tetap dimaknai sebagai “industri” maka selama itu pula kita akan terjerat dalam kubangan masalah yang serius.

            Para tokoh pendidikan bangsa kita, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Natsir, KH Imam Zarkasyi dan sebagainya, telah menempatkan “pendidikan” sebagai aktivitas perjuangan yang sangat mulia. Mendidik manusia berarti membangun jiwa dan raga manusia, sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya.

Semua tokoh pendidikan itu menegaskan bahwa kunci perbaikan pendidikan kita memang dari perbaikan guru-gurunya. Mohammad Natsir yakin, kunci kebangkitan suatu bangsa terletak di tangan para guru.

Karena itulah, kata Natsir mengutip pendapat Dr. G. Nieuwenhuis, ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”

Renungkanlah ungkapan “suka berkorban”! Menjadi guru memang satu pengorbanan. Menjadi guru itu begitu mulia. Sebab, ia memperbaiki manusia secara menyeluruh. Ia memperbaiki jiwa dan raga para muridnya.  Itulah yang dicontohkan M Natsir, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantara, dan sebagainya.

Selain menjadikan diri mereka sebagai contoh dan model guru ideal, para tokoh pendidikan itu juga mendirikan lembaga pendidikan yang melahirkan guru-guru hebat! M Natsir mendirikan Kweekschool di Pendidikan Islam (Pendis) Bandung. Salah satu murid terkenalnya adalah KH Rusyad Nurdin, yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Jawa Barat dan dosen Pendidikan Agama Islam di ITB Bandung.

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa yang memiliki jenjang pendidikan tertinggi bernama “Taman Pamong” atau Taman Guru. Bagi Ki Hadjar, seorang guru harus bisa “ngemong” atau mengasuh. Jadi, guru adalah pengasuh (murabbi); bukan hanya pengajar.

Ki Hadjar menjadikan lembaga pendidikannya sebagai lembaga perjuangan yang berani bersaing dengan sekolah-sekolah bikinan penjajah. Bahkan, secara tegas ia menyatakan, sekolah-sekolah model Barat akan menjadikan anak-anak Indonesia sekedar menjadi buruh. Lebih dari itu, pendidikan kolonial, ujarnya, akan menjadikan bangsa kita terus bergantung kepada bangsa Barat!

KH Ahmad Dahlan sudah tidak diragukan lagi perjuangannya dalam memajukan pendidikan. Beliau menjadikan dirinya dan keluarganya sendiri sebagai guru teladan. Tahun 1918, KH Ahmad Dahlan mendirikan Kweekschool Muhammadiyah di Yogyakarta. Kita mengenalnya sebagai Mu’allimin (Sekolah Guru) Muhammadiyah. Dari sinilah banyak lahir guru-guru hebat yang kemudian mengembangkan Muhammadiyah di seluruh Indonesia. 

KH Hasyim Asy’ari bukan hanya menjadikan diri dan keluarganya sebagai teladan pendidikan. Pesantren Tebuireng dikenal telah melahirkan guru-guru hebat yang berhasil mengembangkan pendidikan dan pelopor-pelopor perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, ia menulis kitab pendidikan yang sangat penting, yaitu “Adabul Alim wal-Muta’allim” (Adab Guru dan Murid).

KH Imam Zarkasyi pun salah satu tokoh dan pejuang pendidikan terkemuka di Indonesia. Ia seorang guru dan manajer pendidikan yang hebat. Karyanya dalam pendidikan tidak diragukan lagi. Pesantren Gontor menjadi bukti nyata kehebatan pemikiran dan keteladanan KH Imam Zarkasyi – dan pendiri Pesantren Gontor lainnya. Semua itu berawal dari “guru”. Dan itu dicontohkan langsung oleh KH Imam Zarkasyi.

Kelima tokoh pendidikan kita itu – semuanya – menjadikan pendidikan sebagai “lembaga perjuangan”. Mereka senantiasa menekankan para muridnya agar menjadi guru yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam pendidikan. Jiwa, raga, dan harta mereka korbankan untuk kemajuan pendidikan.

Demi perjuangan memajukan pendidikan, M Natsir mengorbankan kesempatan kuliahnya di Jakarta dan Belanda. Ia memilih menjadi guru tanpa dibayar. Natsir bukan hanya mengajar, tapi terus belajar, menulis, dan aktif dalam organisasi perjuangan. Intelektualisme dan aktivisme ia jalani secara proporsional. Maka jadilan M Natsir seorang guru dan tokoh pendidikan yang patut diteladani.

KH Imam Zarkasyi dikenal tegas dalam amanahnya kepada para santri. Kalau santri mau jadi orang besar, maka lulus pesantren harus mengajarkan ilmunya dengan ikhlas, dimana saja! Itulah hakikat pendidikan!

Jadi, kalau mau pendidikan kita maju, teladanilah lima tokoh pendidikan kita itu. Masih banyak tokoh pendidikan lainnya. Tapi, meneladani lima itu saja,  sudah cukup menjadi modal untuk memajukan pendidikan kita. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 17 Juli 2025).

 

           

Bagikan Ke:

Populer